Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. 


SURABAYA, PojokPerkoro.Com - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa ingin anak-anak mendapat pemahaman soal kesiapsiagaan bencana. 


Hal itu dikatakan Khofifah usai menemani kunjungan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Minggu, 22 Maret 2026. 


Kunjungan tersebut dilakukan guna memastikan kesiapan personel, sarana dan prasana serta lintas sektor untuk menghadapi potensi kondisi darurat di masa Angkutan Lebaran 2026. 


“Momentum Lebaran ini mobilitas masyarakat meningkat signifikan, sehingga seluruh potensi risiko harus diantisipasi sejak dini,” ujar Khofifah. 


Dalam kesempatan itu, Khofifah menerima Piagam Penghargaan dari Basarnas RI atas dukungan dalam operasi penyelamatan korban reruntuhan bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo. 


“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk seluruh tim yang bekerja di lapangan. Ini juga menjadi bentuk penghormatan bagi para korban dan keluarga yang terdampak,” ujarnya. 


Berkaca dari kasus ambruknya Mushala di Ponpes Al Khoziny pada akhir September 2025, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan pasca bencana harus terintegrasi diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan. 


"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan pascabencana yang terintegrasi," tuturnya. 


Ia menambahkan, kesiapsiagaan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga harus didukung oleh langkah-langkah mitigasi dan edukasi yang berkelanjutan. 


“Kesiapsiagaan maksimal berarti kita tidak hanya siap merespons, tetapi juga mampu memitigasi risiko sejak awal melalui koordinasi yang solid dan kesiapan yang terukur,” pungkasnya. 


Oleh sebab itu, Khofifah menekankan pentingnya edukasi bencana yang dipahami sejak usia sekolah lingkungan pendidikan untuk membangun kesadaran dan budaya tanggap bencana. 


Ia bahkan mendorong agar kurikulum Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dapat mengintegrasikan pendidikan kewaspadaan kebencanaan secara lebih terstruktur. 


“Kita perlu mengenalkan kebencanaan kepada anak-anak sejak dini agar awareness terbentuk kuat. Ini penting untuk membangun budaya siaga bencana sejak awal,” ujarnya. 


Khofifah juga mengusulkan agar peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei nanti dapat menjadi momentum penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah, termasuk melalui pembentukan tim siaga bencana yang melibatkan siswa. 


"Jika ini dapat diimplementasikan, maka pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei mendatang, apabila dipusatkan di Pamekasan, Jawa Timur siap mengintegrasikan kegiatan SAR dengan aktivitas siswa SMA/SMK,” pungkasnya. (*/red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama